Fiersa Besari Kibarkan Merah Putih di Puncak Uhuru Kilimanjaro: “Kemerdekaan Terasa Begitu Sakral”

BANDUNG — Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika Sang Merah Putih berkibar jauh dari Tanah Air. Bagi musisi sekaligus konten kreator Fiersa Besari, momen itu menjadi semakin istimewa ketika ia mengibarkan bendera Indonesia di Puncak Uhuru, Gunung Kilimanjaro, Afrika.

Puncak Uhuru bukan sekadar titik tertinggi Gunung Kilimanjaro. Nama “Uhuru” sendiri berarti kemerdekaan dalam bahasa Swahili. Karena itu, mengibarkan Merah Putih di tempat tersebut menjadi pengalaman yang memiliki makna khusus bagi Fiersa, terlebih dilakukan bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

“Rasanya sungguh mengharukan. Apalagi saat mengibarkan bendera Indonesia di atas puncak benua Afrika. Puncak Uhuru itu artinya kemerdekaan,” ujar Fiersa Besari saat ditemui usai acara nonton bareng ekspedisi puncak Kilimanjaro dalam acara Eksklusif Bersama Fiersa Besari di Arei Flagship Experience Store Cihampelas, Bandung, Rabu (19/8/2026).

Fiersa menjelaskan, pendakian Gunung Kilimanjaro sebenarnya telah dilakukannya beberapa bulan sebelumnya. Namun, perjalanan tersebut baru ditayangkan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Bagi Fiersa, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang berhasil mencapai salah satu puncak tertinggi di dunia. Ada perasaan yang lebih dalam ketika ia berdiri di atas puncak Afrika sambil membawa simbol negara.

Ia mengaku kembali merefleksikan kecintaannya terhadap Indonesia. Menurutnya, mencintai Tanah Air bukan berarti harus menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih ada.

“Saat mengibarkan Sang Merah Putih, timbul perasaan: negara ini memang masih banyak kekurangan, masih banyak yang harus dikritisi, namun cinta Tanah Air tetap besar. Di situ saya menyadari bahwa mengkritik kebijakan justru tanda kita peduli dan mencintai negara ini,” katanya.

Hampir Menyerah di Ketinggian

Pendakian Kilimanjaro juga bukan perjalanan yang mudah bagi Fiersa. Untuk pertama kalinya, ia harus menghadapi ketinggian hampir 6.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kondisi fisik yang terkuras membuat perjalanan tersebut dipenuhi berbagai emosi. Ada rasa bersemangat untuk mencapai puncak, tetapi di sisi lain muncul pula kekhawatiran gagal di tengah perjalanan.

“Karena ini pertama kalinya saya mendaki setinggi itu, hampir 6.000 mdpl, perasaannya benar-benar campur aduk. Ada saat-saat saya hampir menyerah, ada kemungkinan gagal di tengah jalan,” ungkapnya.

Karena itu, Fiersa menegaskan bahwa keberhasilannya mencapai puncak tidak terlepas dari persiapan yang matang. Ia bahkan mendapat pendampingan dokter dan melakukan persiapan medis untuk menghadapi kondisi di ketinggian.

“Jangan sampai nekat. Pendakian dilakukan dengan persiapan medis, sudah minum obat penyesuaian ketinggian, dan didampingi dokter. Dengan segala persiapan itu barulah saya berani melanjutkan sampai ke puncak,” ujarnya.

Menurut Fiersa, Gunung Kilimanjaro memang termasuk salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia yang relatif lebih mudah dijangkau. Namun, hal itu bukan berarti pendakiannya dapat dianggap ringan.

Perjalanan yang ditempuh mencapai sekitar 73 kilometer. Belum lagi tubuh harus beradaptasi dengan ketinggian yang dapat memicu berbagai risiko, mulai dari sesak napas, kebingungan arah hingga hipotermia.

“Jangan sampai nekat. Pendakian dilakukan dengan persiapan medis, sudah minum obat penyesuaian ketinggian, dan didampingi dokter. Dengan segala persiapan itu barulah saya berani melanjutkan sampai ke puncak,” katanya.

Bagi pendaki asal Indonesia, tantangannya disebut Fiersa bisa lebih kompleks. Sebab, kondisi alam Indonesia berbeda dengan pegunungan bersalju yang ada di luar negeri.

“Khusus untuk kita orang Indonesia, tantangannya lain lagi. Kita tidak punya pegunungan bersalju untuk berlatih di sini, peralatan penunjang juga terbatas dan mahal. Karena itu persiapan dan latihan matang sangat penting agar saat tiba di sana kita siap menghadapi segala risiko,” jelasnya.

Sejauh Apa Pun Pergi, Rumah Tetap Jadi Tujuan

Di balik petualangannya menaklukkan berbagai gunung di dunia, Fiersa mengaku selalu memiliki alasan untuk kembali pulang.

Istri dan anak-anaknya menjadi “jangkar” yang membuatnya tetap terhubung dengan rumah, sejauh apa pun perjalanan yang ia tempuh.

“Setiap kali mendaki ke ujung dunia, merekalah alasan utama saya ingin pulang. Mereka juga orang pertama yang mendengar cerita lengkap sebelum orang lain,” katanya.

Menurut Fiersa, pengalaman melihat keindahan alam di berbagai negara tidak pernah mengalahkan rasa nyaman ketika kembali ke rumah.

“Sebesar apa pun keindahan negara lain, setinggi apa pun gunung di luar sana, tetap saja rumah adalah tempat terindah. Rindu keluarga tidak tergantikan apa pun,” tuturnya.

Dari Puncak Gunung, Melihat Manusia dalam Ukuran yang Berbeda

Pendakian Kilimanjaro juga memberikan pengalaman spiritual bagi Fiersa. Menurutnya, berada di puncak gunung justru membuat manusia menyadari betapa kecil dirinya dibandingkan luasnya alam semesta.

“Sampai di puncak, gunung apa pun itu, justru kita merasa menjadi sangat kecil. Merasa dekat dengan Tuhan, menyadari manusia tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta. Itu anugerah yang Tuhan izinkan kita lihat,” katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut tidak hanya menjadi kenangan pribadi, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat melalui video ekspedisi Kilimanjaro yang telah diproduksi.

“Semoga lewat video ini pun penonton bisa merasakan hal serupa, bangga, haru, kagum,” ucapnya.

Membawa Produk Lokal Indonesia ke Pegunungan Bersalju

Sementara itu, Commanditaire AREI, Bryant Peter Budijanto, mengatakan ekspedisi Kilimanjaro bersama Fiersa Besari juga menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuan produk lokal Indonesia menghadapi berbagai kondisi alam.

Menurutnya, sebagai produsen perlengkapan yang selama ini banyak digunakan di iklim tropis, AREI terus meningkatkan kualitas dan kemampuan produknya agar dapat digunakan dalam kondisi yang lebih ekstrem.

“Kami ingin membuktikan dan menghadirkan kualitas terbaik. Dengan begitu, kami ingin menunjukkan kepada para pengguna bahwa menggunakan produk AREI memberikan tiga hal, pertama kenyamanan, kedua gaya yang tetap keren, dan ketiga jaminan keamanan,” kata Bryant.

Kolaborasi dengan Fiersa Besari, lanjut Bryant, menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman sekaligus inovasi produk lokal melalui berbagai ekspedisi.

Ia membuka peluang untuk kembali melakukan ekspedisi bersama di lokasi lain, meski tujuan berikutnya belum ditentukan.

“Kami juga sangat terbuka untuk setiap peluang kerja sama ke depannya. Salah satunya adalah pendakian Gunung Kilimanjaro, dan mungkin nanti akan ada pendakian lain yang sebelumnya sudah sempat kami sebutkan, meski lokasinya belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Bryant berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong masyarakat, khususnya komunitas pendaki, untuk semakin berani mengeksplorasi alam sekaligus menggunakan produk buatan Indonesia.

Menurutnya, produk lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat internasional, termasuk digunakan untuk mendukung aktivitas di lingkungan ekstrem seperti pegunungan bersalju.

“Kami ingin membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan produk lokal Indonesia mampu bersaing hingga ke luar negeri, bahkan untuk menjelajahi pegunungan bersalju di belahan dunia lain,” katanya.

Bryant optimistis Indonesia memiliki sumber daya manusia, kemampuan intelektual, kualitas bahan baku, serta potensi produk lokal yang dapat terus dikembangkan.

“Semoga hal ini bisa mendorong semakin banyak pihak untuk terus maju demi kemajuan Indonesia,” tandasnya.