BANDUNG – Beberapa halte Trans Metro Bandung (TMB) yang rusak dan terlantar dan tersebar di berbagai sudut Kota Bandung.
Shelter-shelter ini seakan hanya dianggap bekas sisa-sisa program layanan TMB beroperasi sejak tahun 2009.
Berdasarkan pantauan Infobandungkota, Shelter-shelter yang tersebar ini terlihat sangat rusak dan semakin tidak terurus. Bahkan, beberapa shelter ini tersisa fondasi nya saja karena beberapa juga sudah dibongkar.
Salah satunya shelter TMB yang ada di Jalan Sukabumi, shelter ini tepat di seberang bangunan pusat perbelanjaan furniture rusak di beberapa bagian.
Coretan-coretan tangan jahil, karat besi bahkan kaca yang pecah pun turut memperlihatkan bahwa shelter yang sudah lama tak terpakai. Terlihat jika struktur bangunan yang sebagian memang dari besi itu sangat terlihat teracuhkan yang sebenarnya berada di tengah hiruk pikuk tengah kota.
Tak hanya itu, 21 halte Trans Metro Bandung (TMB) tidak layak pakai dan tak lagi difungsikan sebagaimana mestinya.
Melihat hal ini, Panji Kharismadi, Kepala Bidang Prasarana Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung menjelaskan jika pihaknya akan membongkar 21 shelter terbengkalai tersebut.
Lalu setelah dibongkar akan kembali digunakan dan bisa sebagai ruang pejalan kaki atau trotoar.
“Banyak yang tidak layak pakai, dan kita akan bongkar. Kita anggarkan total Rp 231 juta, atau 11 juta untuk satu halte. Halte ini banyak berdiri di atas trotoar, dan akan kembali di alih fungsikan,” ujar Panji Kharismadi, saat dihubungi, Senin, 25 Juli 2022.
Panji menjelaskan, Kota Bandung jika di jumlahkan memiliki sebanyak 72 halte. Namun keadaan halte-halte tersebut memang dinilai kurang baik secara fungsi maupun kondisi.
“Kita akan lakukan inventarisasi dan pendataan halte kurang layak. Sejak pandemi, TMB sendiri memang tidak beroperasi seperti biasanya. Dampaknya tentu kepada berkurangnya pengoperasian halte,” katanya.
Panji menambahkan, hal lain yang menjadi penyebab terbengkalainya halte di Kota Bandung, tidak sedikit petugas yang kurang dan ikut bertanggung jawab memelihara halte.
“Dulu terbantu oleh UPT terminal, tetapi sekarang tidak. Sementara petugas yang mengurusi halte itu lima orang. Kita memang keterbatasan personel. Kita butuh partisipasi dari masyarakat,” tegasnya.
Write by Nadia Ayu (Int)
















