BANDUNG — Di tengah deru modernitas Kota Bandung, ada satu kawasan yang masih menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus romantisme masa lalu: Pasar Kosambi. Bagi warga Bandung, nama Kosambi bukan sekadar identik dengan pasar tradisional, tapi juga bagian penting dari perjalanan budaya dan perekonomian kota kembang.
Asal-Usul Nama Kosambi
Berdasarkan berbagai sumber yang kami himpun, penamaan Kosambi berasal dari sebuah pohon bernama Schleichera oleosa atau dikenal sebagai pohon kesambi. Pohon ini dahulu tumbuh subur di kawasan yang kini menjadi lokasi pasar.
Tingginya bisa mencapai 40 meter dengan daun rimbun dan kayu kokoh yang sering dimanfaatkan untuk bangunan. Bahkan, bijinya menghasilkan minyak yang dulu digunakan dalam pengobatan tradisional hingga pelumas alami.
Di masa lalu, pohon kesambi menjadi penanda sekaligus pusat aktivitas perdagangan. Para pedagang ikan asin hingga gula aren kerap berjualan di sekitarnya. Dari sinilah, kawasan tersebut akhirnya dikenal luas dengan nama Kosambi.
Sejarah dan Perkembangan Pasar Kosambi
Pasar Kosambi diresmikan pada tahun 1915 oleh pemerintah kolonial Belanda. Awalnya, pasar ini hanya berupa lapak sederhana beralaskan tanah dengan tenda kayu.
Saat musim hujan, suasana pasar becek dan berlumpur, namun tetap ramai didatangi pembeli.
Seiring waktu, Kosambi tumbuh menjadi salah satu pusat perekonomian penting di Bandung. Usianya kini sudah lebih dari satu abad, dan bangunannya berkembang menjadi lima lantai.
Pasar ini tak hanya tempat belanja, tapi juga saksi perubahan wajah Kota Bandung dari masa ke masa.
Masa Keemasan Hiburan di Kosambi
Kosambi bukan hanya tentang perdagangan. Pada tahun 1935, di sebelah barat pasar berdiri Bioskop Rivoli, yang kala itu menjadi primadona warga Bandung untuk menonton film-film asing.
Tak hanya itu, pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang orang dan sandiwara Sunda juga kerap digelar di kawasan ini.
Suasana hiburan inilah yang menjadikan Kosambi sebagai ruang interaksi sosial, tempat warga melepas penat sekaligus menikmati hiburan rakyat di masa keemasannya.
Ambisi Modernisasi dan Tantangan
Pada akhir tahun 1990-an, Pemkot Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Ateng Wahyudi berambisi menjadikan Pasar Kosambi sebagai pusat perbelanjaan termegah di Asia Tenggara dengan enam lantai. Sayangnya, proyek besar itu tak berjalan mulus.
Bangunan memang selesai, tapi lantai dua hingga enam tak berfungsi optimal. Bahkan, pedagang tradisional sempat memprotes keberadaan toko-toko besar yang masuk ke area pasar. Sejak itu, geliat Pasar Kosambi sempat meredup.
Harapan Baru dari Generasi Muda
Meski sempat lesu, Kosambi kini menemukan kembali napas barunya lewat The Hallway Space. Berlokasi di lantai dua, ruang kreatif ini menghadirkan suasana modern dengan kafe, gerai produk lokal, hingga ruang nongkrong kekinian.
The Hallway menjadi magnet baru yang menarik perhatian generasi muda Bandung. Kehadirannya membuktikan bahwa Kosambi mampu beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan jejak sejarah yang melekat kuat.
Kosambi dalam Peta Bandung
Secara administratif, kawasan Kosambi berada di Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Hingga kini, Kosambi tetap dikenal sebagai salah satu destinasi belanja tradisional sekaligus pusat pertokoan yang menjajakan kebutuhan sehari-hari.
**
Dari pohon kesambi yang jadi penanda, pasar yang beralaskan tanah, hingga kini memiliki ruang kreatif modern, Kosambi adalah cerminan perjalanan Bandung yang terus berdinamika.
Bagi sebagian orang, berkunjung ke Pasar Kosambi bukan hanya soal belanja, tapi juga nostalgia akan romantisme Bandung tempo dulu.
**
Penulis: Asep Sonny Sonjaya
Sumber: Bandung Bergerak, Prfmnews, Pemprov Jabar dan Tribun Jabar
