BANDUNG — Pemerintah tengah menyiapkan program renovasi kawasan permukiman kumuh yang rencananya akan didanai melalui pinjaman dari Bank Dunia senilai Rp24,5 triliun.
Anggaran besar ini juga akan dialokasikan untuk program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau lebih dikenal sebagai bedah rumah.
Namun berbeda dari program BSPS sebelumnya, kali ini konsepnya akan lebih strategis. Fokus bantuan bukan hanya memperbaiki rumah, tapi juga mendorong pemiliknya agar bisa produktif secara ekonomi.
“BSPS dari Bank Dunia akan difokuskan pada hunian yang mendukung perkembangan keluarga, seperti homestay atau pembangunan warung,” ujar Fitrah salah satu perwakilan dari pihak kementerian, seperti dilansir dari laman cnnindonesia.com.
Tak hanya itu, pemerintah juga membuka peluang insentif bagi pembangunan rumah vertikal seperti apartemen berlantai rendah (low-rise apartment), serta kawasan hunian berbasis transportasi massal atau transit-oriented development (TOD).
“Kita juga menyiapkan semacam insentif bagi pengembang yang mau membangun semacam low-rise apartment atau rumah subsidi, apartemen yang murah,” lanjut Fitrah.
Berbagai skema tersebut saat ini sudah masuk dalam proses pengkajian oleh Bappenas.
Jika disetujui, tahap pengajuan ke Bank Dunia akan dilakukan, dan implementasi kemungkinan baru bisa dimulai paling cepat pada 2026.
“Setelah itu baru tahapannya, berarti mungkin paling cepat tahun 2026,” katanya.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Maruarar Sirait sebelumnya mengungkap bahwa pinjaman ini merupakan bagian dari tawaran kerja sama Bank Dunia untuk mendukung program pembangunan tiga juta rumah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Tentu kita pelajari program-program apa yang bisa didukung oleh Bank Dunia, dan kita tentu mempelajari secara mendalam karena itu harus kita lakukan,” ujar Maruarar atau yang akrab disapa Ara, dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (19/6/2025), dikutip dari Antara.
Pinjaman tersebut bernilai sekitar US$1,5 miliar dengan bunga yang diperkirakan berada di kisaran 6-7 persen.
