Pemkot Bandung Tunjukkan Komitmen Lewat Program Kecil yang Berdampak Nyata

BANDUNG — Meski istilah 100 hari kerja tidak secara resmi tercantum dalam aturan pemerintahan, Pemerintah Kota Bandung memanfaatkannya sebagai titik awal menunjukkan arah kerja yang serius dan terukur sejak hari pertama menjabat.

Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menegaskan bahwa periode awal ini bukan sekadar simbolik, melainkan momentum penting untuk membuktikan komitmen dan visi kepemimpinan baru.

“Ini bukan soal menyelesaikan semuanya dalam 100 hari. Tapi ini adalah titik tolak – bukti bahwa kami siap bekerja dan punya visi yang jelas,” ujar Erwin dalam talkshow bersama Radio Sonata, Jumat (9/52025).

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa kehadiran kami bukan hanya seremonial, tapi hadir untuk bekerja dan membawa perubahan,” tambahnya.

Sejumlah program nyata langsung dijalankan, meski berskala kecil. Menurut Erwin, dampak langsung bagi masyarakat menjadi fokus utama.

Beberapa di antaranya adalah penataan kawasan Seke Babakan Ledeng, mural Jalan Lodaya, dan Pasar Sisi Walungan (Pasiwal).

“Pembangunan kota tidak bisa diselesaikan dalam sekejap. Proyek besar butuh waktu dan perencanaan. Maka kami mulai dari langkah-langkah kecil yang bisa langsung dieksekusi, tapi punya arah yang jelas,” jelas Erwin.

Langkah kecil itu disebut sebagai pendekatan strategis, bukan kebetulan.

Ia menyebut intervensi ringan seperti ini mampu membangkitkan energi kota, dari aspek ruang, budaya, hingga ekonomi warga.

“Prinsip kami sederhana: kecil tapi berdampak, baru kemudian berkembang ke arah yang lebih besar dan terstruktur,” tegasnya.

Sementara itu, dari sisi infrastruktur lingkungan, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Bandung, Didi Ruswandi, menjelaskan bahwa upaya pengelolaan air juga terus dilakukan.

Salah satunya lewat reboisasi di daerah hulu dan pembangunan kolam retensi sebagai tampungan air jangka menengah dan panjang.

“Reboisasi kita lakukan, terutama di wilayah kabupaten. Tapi untuk transisinya, kita juga siapkan tampungan besar seperti kolam retensi,” kata Didi.

Menurutnya, ini bagian dari strategi jangka panjang dalam memperbaiki tata kelola air dan mencegah banjir.

“Memang tidak mudah dan butuh waktu. Tapi kita tetap optimis karena semua ini bagian dari proses besar untuk memperbaiki tata kelola air,” ujarnya.

Dengan pendekatan kolaboratif dan langkah-langkah kecil yang terukur, Pemkot Bandung berupaya membangun fondasi sosial dan lingkungan yang kuat.

Visi besarnya: membentuk Bandung yang lebih tertata, tangguh, dan menyentuh kebutuhan warganya sejak awal masa jabatan.