BANDUNG — Orang-orang bernama Asep dari berbagai daerah berkumpul di Kota Bandung dalam Konferensi ke-7 Asep-Asep (KAA), Sabtu, 7 November 2026. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus upaya menjaga identitas budaya Sunda yang melekat pada nama Asep.
Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Paguyuban Asep Dunia (PAD), komunitas yang telah berdiri sejak 1 Agustus 2010. Selama 16 tahun, organisasi ini menjadikan kesamaan nama sebagai pengikat persaudaraan sekaligus wadah untuk melakukan kegiatan sosial dan budaya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengapresiasi keberadaan komunitas tersebut. Menurutnya, Paguyuban Asep Dunia merupakan bentuk ekspresi budaya yang tumbuh secara unik dari kesamaan nama.
“Saya rasa ini merupakan satu bentuk ekspresi budaya dari sebuah komunitas yang tanpa sengaja bergabung. Eksistensi komunitas Asep Sedunia ini menjadi sangat penting karena berperan memberikan warna identitas dan menjaga nama yang sangat khas tanah Sunda,” kata Farhan di Gedung Pusat Kebudayaan Kota Bandung, Sabtu, 7 November 2026.
Farhan berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi anggota komunitas, tetapi juga masyarakat luas dan bangsa Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan turut dikukuhkan sebagai bagian dari keluarga besar Paguyuban Asep Dunia. Ia menyambut pengukuhan tersebut sebagai bentuk kebersamaan dan interaksi budaya.
“Sebagai bagian dari sebuah interaksi budaya, saya merasa sangat bangga dan berbahagia,” ungkapnya.
Nama Asep Jadi Pengikat Persaudaraan
Ketua Umum Paguyuban Asep Dunia, Asep Jaelani, mengatakan Konferensi Asep-Asep bukan sekadar ajang berkumpul atau bernostalgia bagi orang-orang yang memiliki nama Asep.
Menurutnya, pertemuan ini menjadi momentum untuk menyatukan visi dan membangun organisasi yang berdaya, bermanfaat, serta berintegritas.
“Asep bukan sekadar nama, melainkan simpul tali silaturahmi yang membawa nilai-nilai positif dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas,” ujar Asep.
Mengusung semangat Ti Asep, Ku Asep, Keur Indonesia, PAD ingin menjadikan kesamaan nama sebagai sarana mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selama 16 tahun perjalanan organisasi, berbagai kegiatan telah dikembangkan, mulai dari bidang keagamaan, sosial budaya, pemberdayaan ekonomi umat, hingga pendidikan.
Asep Jaelani menilai nama Asep memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai kesundaan yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat.
“Nama Asep memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai kesundaan yang luhur, seperti kesopanan, gotong royong, kebersamaan dan kehangatan dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Melalui konferensi ini, Paguyuban Asep Dunia berharap kesamaan nama tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi jalan untuk memperkuat silaturahmi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
