BANDUNG — Warga Kota Bandung yang ingin bekerja di luar negeri, khususnya Jepang, bisa mempersiapkan diri melalui berbagai pelatihan keterampilan dan bahasa yang diselenggarakan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung.
Melalui Program SMK Go Global, Disnaker berupaya membekali calon pekerja agar memiliki kemampuan sesuai kebutuhan pasar kerja internasional. Persiapan tersebut mencakup keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing, hingga pemahaman mengenai proses dan persyaratan bekerja di negara tujuan.
Kepala UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Disnaker Kota Bandung, Erwin Robiyansyah, mengatakan sepanjang 2026 terdapat 25 paket pelatihan yang diselenggarakan untuk masyarakat. Bidangnya beragam, mulai dari barista, data analis, perhotelan, digital marketing, konten kreator, hingga bahasa Jepang.
“Pada tahun ini, kami melaksanakan 25 paket pelatihan. Ada pelatihan barista, data analis, perhotelan, konten kreator, digital marketing dan juga bahasa Jepang untuk mempersiapkan warga Kota Bandung yang ingin magang maupun bekerja di Jepang,” ujar Erwin dalam Sonata Talkshow Radio Sonata, Kamis, 29 Oktober 2026.
Khusus pelatihan bahasa Jepang, sebanyak 130 peserta telah mengikuti program tersebut melalui kerja sama dengan sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta.
Erwin menjelaskan, kesempatan mempersiapkan diri untuk bekerja di luar negeri tidak hanya terbuka bagi lulusan SMK. Lulusan SMA maupun perguruan tinggi juga dapat mengikuti persiapan sesuai persyaratan dan kebutuhan pekerjaan yang tersedia.
“Program SMK Go Global berkaitan dengan peluang bekerja ke luar negeri. Namun, kesempatan untuk mengikuti persiapan kerja ini tidak hanya bagi lulusan SMK. Lulusan SMA maupun perguruan tinggi juga dapat mengikuti program sesuai persyaratan dan kebutuhan pekerjaan yang tersedia,” jelasnya.
26 Warga Bandung Dipersiapkan Bekerja ke Jepang
Pimpinan PT OHM, Rizal Ansory, menjelaskan perusahaannya bergerak di bidang pelatihan bahasa Jepang dan persiapan penempatan tenaga kerja ke luar negeri sejak 2015.
PT OHM memiliki perizinan sebagai LPK bahasa Jepang, Sending Organization (SO), dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), dengan fokus penempatan ke Jepang dan Turki.
Melalui kerja sama dengan Disnaker Kota Bandung, PT OHM mendapat amanah mempersiapkan 26 warga untuk ditargetkan berangkat bekerja ke Jepang pada 2026.
“Untuk tahun ini, kami mendapat amanah dari Disnaker Kota Bandung untuk mempersiapkan 26 warga Kota Bandung yang ditargetkan berangkat bekerja ke Jepang. Persiapannya tidak hanya mengenai bahasa, tetapi juga keterampilan, seleksi, dan kelengkapan administrasi yang harus dipenuhi peserta,” ujar Rizal.
Ia menerangkan, terdapat sejumlah jalur untuk bekerja di Jepang, di antaranya program magang dan Specified Skilled Worker (SSW) atau Tokutei Ginou. Masing-masing jalur memiliki persyaratan, ketentuan kontrak, serta hak dan kewajiban pekerja yang berbeda.
Karena itu, calon pekerja perlu memahami skema yang akan dipilih sebelum memulai proses keberangkatan. Persiapan tidak cukup hanya dengan mengetahui peluang pekerjaan, tetapi juga harus memahami ketentuan yang berlaku.
“Calon pekerja harus mengetahui jalur yang akan diikuti, apa saja persyaratannya, bagaimana kontraknya, serta hak dan kewajibannya selama bekerja. Jangan hanya melihat peluangnya, tetapi pahami juga proses dan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Kemampuan Bahasa Jepang Jadi Salah Satu Syarat
Rizal menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja di Jepang turut dipengaruhi meningkatnya populasi lansia dan rendahnya angka kelahiran. Kondisi tersebut membuka peluang pekerjaan di sejumlah sektor, termasuk layanan perawatan lansia.
Namun, calon pekerja tetap harus memenuhi kualifikasi sesuai bidang pekerjaan yang dituju. Salah satunya kemampuan bahasa Jepang, yang menjadi bagian penting dalam proses seleksi.
Untuk jalur kerja tertentu, peserta perlu memiliki kemampuan bahasa Jepang setara JLPT N4. Pelatihan bahasa biasanya berlangsung selama beberapa bulan dan dilanjutkan dengan latihan percakapan serta wawancara.
“Untuk jalur kerja tertentu, peserta perlu memiliki kemampuan bahasa Jepang, misalnya setara JLPT N4. Pelatihan bahasa biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan, kemudian dilanjutkan dengan latihan percakapan dan wawancara. Proses sampai keberangkatan juga bergantung pada kesiapan peserta dan kelengkapan persyaratannya,” ungkap Rizal.
Melalui pelatihan tersebut, calon pekerja diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan pemberi kerja, tetapi juga memahami proses penempatan serta hak dan kewajibannya sebelum bekerja di luar negeri.
















