Stunting Udah Bikin Was-Was, Jabar Gercep Dampingi Ibu Hamil dari Awal

BANDUNG — Pemprov Jawa Barat lagi serius banget ngelawan stunting dan risiko kematian ibu-anak. Fokusnya? Bukan cuma saat hamil, tapi even dari masa remaja biar generasi nanti nggak kena imbasnya.

Menurut Kukuh, Sekretaris Perwakilan BKKBN Jabar, masalah yang muncul sekarang tuh akarnya udah kebentuk jauh sebelum seorang perempuan hamil. Mulai dari tingginya angka kematian ibu, balita, sampai masalah tumbuh kembang anak-anak.

“Kalau ngomongin kesehatan ibu dan anak, sebenernya kita start dari remaja. Banyak perempuan nggak nyadar kalau mereka udah hamil. Padahal dua bulan pertama itu momen penting banget buat pembentukan saraf janin,” kata Kukuh.

Nah, kurangnya awareness ini bisa ngefek banget ke kualitas generasi nanti. Makanya, BKKBN Jabar ngegas dengan program Kawal Bumil, yang fokus buat ngedampingi ibu hamil, ngecek risiko, sampai pastiin nutrisi mereka aman.

Ada 3 target utama dari program ini:
1. Nge-press angka kematian ibu,
2. Nurunin angka kematian anak,
3. Ngeblok potensi stunting sejak dini.

“Stunting itu bisa banget dicegah kalau ibu hamil terdata, didampingi, dan nutrisinya kecukup. Kesalahan di awal kehamilan bisa kebawa sampai masa depan anak,” tegasnya.

Kukuh juga bilang kunci pencegahan itu bukan dimulai pas hamil, tapi dari remaja perempuan. Masalah paling sering? Anemia, baik pada remaja maupun ibu rumah tangga.

“Anemia ngaruh ke tenaga, tapi juga jadi pintu awal masalah tumbuh kembang janin. Makanya remaja wajib minum tablet tambah darah, jaga makan, sama rutin screening kesehatan. Idealnya, nikah tuh pas usia 20–21 tahun,” jelasnya.

Yang bikin nyesek, 70% kasus anemia perempuan di Indonesia itu datang dari Jawa Barat. Pola hidup cepat-cepat, makan sembarangan, kurang tidur, nggak olahraga — semua jadi pemicu.

“Stunting itu efek jangka panjang dari modernisasi. Kalau satu generasi kena, generasi berikutnya bisa ikut terdampak. Rantai ini harus diputus,” lanjutnya.

Di level kota, upaya ngelawan stunting juga makin digenjot. Endah Komalasari, Kabid Kesejahteraan dan Kesenjangan Sosial DKPP Kota Bandung, bilang layanan buat ibu hamil sampai keluarga udah jalan lewat program BKB (Bina Keluarga Balita) dan BKR (Bina Keluarga Remaja).

“1000 Hari Pertama Kehidupan itu masa emas. Perkembangan anak ngebut banget di fase itu. Jadi gizi ibu hamil dan bayi harus bener-bener aman,” kata Endah.

Pemkot Bandung juga rajin audit stunting dengan turun langsung ke rumah ibu-ibu berisiko bareng tim lengkap: dokter anak, obgyn, ahli gizi, psikolog, sampai kader kesehatan.

Tapi tantangannya di kota gede kayak Bandung juga nggak main-main. Mulai dari padatnya penduduk, akses air bersih yang nggak merata, sanitasi yang kurang oke, sampai urusan sampah.

Buat memperkuat dukungan, Bandung nge-launch Gerakan Orang Tua Asuh Stunting, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Banyak pihak ikut support: Rumah Zakat, Blackmores, PKBI, sampai UNFPA.

Tapi sayangnya, tingkat hadir posyandu masih rendah banget. Baru 50–60% warga yang rutin datang. Kalau dijemput sih naik, tapi kalau enggak, turun lagi.

“Ini PR besar. Kita harus bareng-bareng ubah mindset dan kebiasaan masyarakat,” tutup Endah.