BANDUNG — Kabupaten Bandung Barat diguncang gempa tektonik berkekuatan magnitudo 1,7 pada Rabu (20/8) siang, sekitar pukul 12.28 WIB. Guncangan ini dipicu aktivitas Sesar Lembang dengan pusat gempa di darat, 3 km barat laut Bandung Barat, pada kedalaman 10 km.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menyebut sejak pertengahan 2025 aktivitas Sesar Lembang terus menunjukkan peningkatan.
“Hasil monitoring BMKG, sejak 24 Juli 2025 Sesar Lembang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan,” ujar Rahayu saat dikonfirmasi, Rabu (20/8/2025). Dilansir dari laman cnnindonesia.com.
Ia merinci sejumlah gempa kecil yang sempat terjadi, di antaranya M1,8 pada 24 Juli, M2,1 pada 28 Juli, M1,9 pada 14 Agustus, M1,8 pada 15 Agustus, M2,3 pada 19 Agustus, hingga yang terbaru M1,7 pada 20 Agustus.
“Imbauannya, masyarakat perlu lebih waspada dan memperkuat mitigasi. Kolaborasi antarinstansi seperti BMKG, BPBD, dan Pemprov juga harus ditingkatkan,” katanya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menambahkan segmen barat Sesar Lembang memang mengalami peningkatan seismik.
“Yang pasti Sesar Lembang adalah sesar aktif, jadi kapan saja bisa rilis. Fenomena seperti ini dikhawatirkan sebagai gempa pembuka (foreshock),” jelasnya.
Namun, ia menegaskan peningkatan ini tidak serta-merta menjadi tanda gempa besar. “Tidak ada yang bisa memprediksi kapan gempa kuat akan terjadi,” kata Daryono.
Dalam diskusi daring ‘Pemetaan Sesar Pulau Jawa Serta Mitigasi Risiko Bencana Geologi’ (3/4), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono, menyebut Sesar Lembang dengan panjang 30 km berpotensi menimbulkan gempa hingga magnitudo 6,8.
“Kalau skenarionya pusat gempa di kedalaman 10 km, dampaknya bisa dirasakan di Bandung Barat, Cimahi, Bandung, hingga Purwakarta dengan skala MMI VI–VII,” ungkap Rahmat.
Ia menekankan pentingnya bangunan yang memenuhi kaidah tahan gempa. “Kalau struktur bangunan tidak memenuhi syarat, dengan skala VI–VII MMI bisa rata dengan tanah,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, mengingatkan kondisi geologi Bandung memperbesar risiko kerusakan.
“Bandung berdiri di atas bekas danau purba dengan batuan yang lunak,” katanya.
















