BANDUNG — Penataan kabel udara di sejumlah ruas jalan provinsi di Kota Bandung terus dilakukan. Kabel-kabel yang selama ini menggantung di atas jalan akan dipindahkan ke bawah tanah secara bertahap untuk mempercantik wajah kota sekaligus menghindari pembongkaran jalan yang berulang.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Bandung dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) Jawa Barat melakukan seremoni pemutusan kabel udara di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Rabu (8/7/2026) sebagai tanda dimulainya proses relokasi kabel ke dalam saluran bawah tanah.
Sekretaris Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, Kosasih, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat agar kabel udara di sepanjang jalan provinsi ditata ke bawah tanah.
“Hari ini kita mengadakan seremonial pemutusan kabel. Kabel yang tadinya berada di udara dipindahkan ke bawah, ke dalam saluran. Itu sesuai arahan Pak Gubernur agar semua kabel yang ada di udara, khususnya di jalur jalan provinsi, dipindahkan ke bawah,” ujarnya.
Menurut Kosasih, proses penurunan kabel akan dilakukan bersamaan dengan pembangunan maupun pemeliharaan saluran drainase agar tidak perlu membongkar jalan untuk kedua kalinya.
“Kami mengharapkan di mana ada kegiatan pembangunan saluran atau pemeliharaan, itu sekalian dilakukan penurunan kabel. Jadi nantinya tidak perlu gali-gali lagi,” katanya.
Ia menyebut penataan akan dilakukan secara bertahap di sejumlah ruas jalan provinsi di Kota Bandung, seperti Jalan Buah Batu, Kopo, Pasirkaliki, Batununggal, Sukajadi, hingga Setiabudi.
“Betul sekali. Jadi setiap ada pembangunan saluran, kabelnya sekalian diturunkan supaya tidak perlu membongkar jalan lagi,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Sekdis Kominfo) Provinsi Jabar Bayu Rakhmana, memastikan proses relokasi kabel tidak mengganggu layanan internet masyarakat.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan APJATEL dan seluruh penyedia layanan internet agar proses pemindahan berjalan aman tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
“Sementara ini kami harus memastikan komunikasi dengan APJATEL dan seluruh provider bahwa konsekuensi dari penurunan kabel udara ini tidak berdampak pada pelayanan kepada masyarakat, utamanya penyediaan layanan internet. Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada laporan gangguan yang signifikan,” ujarnya.
Mahyudin mengatakan, penataan kabel bukan hanya bertujuan memperbaiki estetika kota, tetapi juga membuat pengelolaan jaringan telekomunikasi menjadi lebih tertata.
“Kami berharap semua kabel udara, khususnya di wilayah perkotaan, bisa diturunkan. Supaya keindahan kota terjaga dan koordinasi terkait pelayanan juga lebih terorganisasikan dengan baik. Jalan sudah bagus, jangan sampai pemandangannya terganggu oleh kabel yang semrawut,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah pemerintah daerah di Jawa Barat juga mulai melakukan langkah serupa dan terus berkoordinasi untuk menata kabel udara di wilayah masing-masing.
Di sisi lain, Ketua APJATEL Jawa Barat, Yudiana, memastikan seluruh operator telekomunikasi mendukung program penataan kabel yang digagas pemerintah.
Menurutnya, sebelum kabel dipindahkan, seluruh jaringan terlebih dahulu dipastikan tetap berfungsi agar pelanggan tidak mengalami gangguan layanan internet.
“Hari ini sesuai permintaan pemerintah provinsi, beberapa titik jalan provinsi yang menjadi perhatian Pak Gubernur mulai diturunkan kabelnya. Operator siap mendukung. Yang kami pastikan dulu, koneksi ke setiap pengguna tetap aman sehingga mudah-mudahan tidak ada masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Yudiana mengungkapkan, beberapa ruas jalan provinsi di Kota Bandung sudah memasuki tahap penyelesaian, seperti Jalan Buah Batu dan Kopo. Sementara Jalan Mohammad Toha tengah dikerjakan, sedangkan Jalan Antapani telah selesai pembangunan saluran bawah tanah dan tinggal proses penurunan kabel.
Adapun penataan di kawasan Pasirkoja, Sukajadi, dan Setiabudi saat ini masih dalam tahap persiapan.
Meski mendukung penuh program tersebut, APJATEL berharap pelaksanaan relokasi dilakukan secara bertahap karena membutuhkan investasi yang cukup besar dari para operator.
“Kami siap mendukung pemerintah. Hanya saja kami berharap pelaksanaannya dilakukan bertahap karena program relokasi ini membutuhkan biaya yang besar,” tutup Yudiana.
