BANDUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat kembali merilis data kemiskinan nasional pada 27 Juli 2025, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) per Maret 2025.
Dalam laporan tersebut, Jawa Barat menempati urutan kedua sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia, yakni sebanyak 3,65 juta jiwa, berada tepat di bawah Jawa Timur yang mencatat angka 3,88 juta jiwa.
Jika dibandingkan periode sebelumnya, yakni September 2024, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 13,61 ribu orang.
Sementara jika ditarik lebih jauh ke belakang, dibandingkan Maret 2024, angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 193,93 ribu orang.
Dari sisi persentase, angka kemiskinan di Jawa Barat per Maret 2025 tercatat 7,02 persen, turun 0,06
persen poin dari September 2024 dan 0,44 persen poin dibandingkan Maret tahun sebelumnya.
Bila dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal, tren penurunan jumlah penduduk miskin paling besar terjadi di perdesaan. Dalam periode Maret 2024 hingga Maret 2025, jumlah warga miskin di desa
menyusut hingga 118,89 ribu orang, sementara di perkotaan penurunan terjadi sebesar 75,04 ribu
orang.
Persentase penduduk miskin di kota pun menurun dari 7,07 persen menjadi 6,76 persen, sementara di desa turun dari 9,07 persen menjadi 8,15 persen. Namun jika dibandingkan dengan periode September 2024 hingga Maret 2025, data menunjukkan tren yang berlawanan: angka kemiskinan di kota justru meningkat sebesar 66,02 ribu orang, sementara di desa kembali turun sebanyak 79,63 ribu orang.
Komoditas Penyumbang Garis Kemiskinan Masih Didominasi Beras dan Rokok
BPS juga mencatat komoditas-komoditas utama yang berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan (GK), baik makanan maupun nonmakanan. Di wilayah perkotaan, beras menjadi penyumbang terbesar terhadap GK dengan proporsi 22,03 persen, disusul rokok kretek filter (11,12 persen), telur ayam ras (5,11 persen), daging ayam ras (4,93 persen), dan kopi instan (3,57 persen).
Sementara di perdesaan, pola yang hampir serupa ditemukan. Beras menyumbang bahkan lebih tinggi, yaitu 26,78 persen, diikuti oleh rokok kretek filter (7,32 persen), telur ayam ras (4,50 persen), daging ayam ras (4,18 persen), dan kopi sachet (4,08 persen).
Biaya Hidup Harian Masih Menjadi Beban Utama Nonmakanan
Komoditas nonmakanan juga memberikan kontribusi besar terhadap garis kemiskinan. Di perkotaan, biaya perumahan menyumbang paling besar sebesar 9,74 persen, disusul bensin (2,44 persen), listrik (2,13 persen), pendidikan (1,79 persen), dan perlengkapan mandi (1,32 persen).
Di perdesaan, urutan tersebut sedikit berbeda. Perumahan tetap menjadi beban utama (10,45 persen), diikuti bensin (2,64 persen), listrik (1,28 persen), perlengkapan mandi (1,22 persen), dan pendidikan (1,10 persen).
**
Sumber:
Disadur dari jabar.bps.go.id
Penulis: Ferdi Ferdiansyah
Penyunting: Asep Sonny Sonjaya
