BANDUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mengejar target investasi yang nilainya fantastis. Tak tanggung-tanggung, investasi lebih dari Rp 380 triliun ditargetkan bisa masuk ke Jabar.
Nilai tersebut jauh lebih tinggi dari realisasi investasi pada Semester I 2020 yang mencapai Rp 86,3 triliun.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatkan bahwa wilayah yang dipimpinnya masih menjadi incaran investor meski pandemi Covid-19 tak kunjung reda.
“Selama Pandemi (nilai investasi) malah meningkat sampai Rp380 triliun, komitmen realisasi investasi menunjukkan Jawa Barat disukai dan dicintai investor,” ucap Ridwan Kamil dalam acara WJIS 2020 di Savoy Homann, Bandung, Senin (16/11/2020).
Mengacu pada data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DMPTSP) Pemprov Jabar, rincian investasi tersebut yang masuk tahapan persiapan (preparation stage) seniai Rp 347 triliun dari 11 perusahaan global dan nasional, termasuk Hyundai dan Amazon
Sementara Kepala DMPTSP Jawa Barat, Noneng Komara mengatakan, ada beberapa faktor yang memicu tingginya nilai investasi di Jabar.
Faktor tersebut di antaranya realisasi, eksekusi invetasi mangkrak, komitmen dan tawaran proyek investasi.
Menurutnya investasi dari kategori persiapan akan bergulir dalam 3-5 tahun ke depan. Sementara itu, pada periode Januari hingga September 2020 sendiri, total realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) di 27 kabupaten/kota se-Jabar mencapai Rp86,3 triliun dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 86.627 orang serta 13.386 jumlah proyek.
Dari berbagai investasi yang ada, lima sektor yang paling diminati investor yaitu konstruksi; transportasi, gudang & komunikasi; perumahan, kawasan industri & perkantoran; listrik, gas & air; serta industri kendaraan bermotor & alat transportasi lain.
Ia mengharapkan, WJIS bisa mendorong realisasi investasi Jabar di triwulan IV sebelum menutup 2020 dan memicu pertumbuhan ekonomi Jabar.
“Untuk penyerapan tenaga kerja PMA dan PMDN paling banyak di industri tekstil mencapai 33,19 persen, kemudian disusul industri barang dari kulit dan alas kaki, industri logam, mesin & elektronika, industri kendaraan bermotor & alat transportasi lain, serta transportasi, gudang & komunikasi,” kata Noneng.
Ia mengharapkan, WJIS bisa mendorong realisasi investasi Jabar di triwulan IV sebelum menutup 2020 dan memicu pertumbuhan ekonomi Jabar.
“Untuk penyerapan tenaga kerja PMA dan PMDN paling banyak di industri tekstil mencapai 33,19 persen, kemudian disusul industri barang dari kulit dan alas kaki, industri logam, mesin & elektronika, industri kendaraan bermotor & alat transportasi lain, serta transportasi, gudang & komunikasi,” kata Noneng.