BANDUNG – Jumlah pengunjung mal di Kota Bandung masih minim sejak diizinkan kembali beroperasi di tengah pandemi Covid-19.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Barat, Arman Hermawan, Jumat (16/10/2020).
Menurut Arman, tingkat kunjungan ke mal setiap harinya hanya sekitar 5-15 persen.
Meski demikian, Arman menilai okupansi mulai merangkak naik, dibandingkan apabila mal tidak beroperasi sama sekali.
“Sejak mal dibuka sekarang kondisinya mulai sedikit membaik, kalau pertama kali dibuka mungkin kunjungannya hanya sekitar 5 persen,” ucap Arman, dilansir dari laman Detik.
“Sekarang bisa naik 10, bahkan kalau hari Minggu bisa sampai 15 persen, tapi itu masih jauh dari kapasitas yang sudah dibuka 50 persen,” bebernya.
Arman mengklaim masih minimnya pengunjung mal lantaran khawatir akan penularan Covid-19.
Padahal, seluruh pusat perbelanjaan modern di Kota Bandung telah menerapkan protokol kesehatan.
“Padahal protokol kesehatan di mal sudah tiga lapis, harusnya mal menjadi salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan yang lebih aman daripada yang lain, hanya ini yang belum terekpose, padahal kan di pinggir jalan lebih padat dibandingkan di mal,” cetus Arman.
“Seperti mainan anak-anak belum diizinkan, salon kecantikan, terapi dan pijat belum. Baru-baru ini dibuka bioskop,” imbuhnya.
Mal Tidak Beroperasi, Kota Bandung Merugi
Arman mengungkapkan, dampak kerugian sejak mal dilakukan penutupan hingga dibuka sangat signifikan sekali.
“Kerugiannya pas tutup sama sekali Rp 35 triliun, kemudian banyak yang dirumahkan dan lainnya. Sekarang dengan kondisi baru buka dan bergeliat walau toko masih banyak yang tutup sekitar Rp 1,5- Rp 2 triliun kerugiannya,” ungkapnya.
Namun apabila sudah normal kembali, pemasukan mal setiap bulamn bisa mencapai Rp30 triliun.
“Menghasilkan sekitar Rp 30 triliun bisa masuk perbulan dari 20 mal. Bayangkan itu buat pendapatan daerahnya lumayan. Ada pajak macam-macam, pajak hiburan, pajak makanan, pajak parkir,” tutur Arman.
Lebih lanjut Arman mengatakan, masih ada kategori yang belum diberikan relaksasi, termasuk salon kecantikan.
“Seperti mainan anak-anak belum diizinkan, salon kecantikan, terapi dan pijat belum. Baru-baru ini dibuka bioskop,” kata Arman.