BANDUNG – Aksi perkelahian antar pelajar terjadi di Kota Bandung. Mereka yang berseteru itu adalah pelajar dari sekolah yang tak jauh dari rumah dinas Wali Kota Bandung, Pendopo Dalem Kaum.
Viral di media massa yang merekam aksi perkelahian pelajar tersebut yang terjadi di roof top pusat perbelanjaan pada 9 Februari 2022.
Dalam rekaman video, satu siswa sampai dibanting, dipukuli, hingga ditendang.
Saat berkelahi, kedua pelajar berjenis kelamin laki-laki tersebut tidak mengenakan seragam sekolah. Sebab, siswa tersebut seharusnya belajar di rumah, atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Setelah dikonfirmasi tim Infobandungkota.com, Humas SMP Pasundan 2 Bandung, Uus Sutarsa yang didampingi kesiswaan, Risman Mulyana mengaku bahwa pelajar tersebut merupakan siswa di SMP Pasundan 2.
“Ya, mereka (siswa) tak bisa dipungkiri memang siawa yang bersekolah di sini. Ternyata, setelah diselidiki harusnya belajar di rumah tapi justru datang ke sekolah dengan pakaian bebas alias tak memakai seragam,” ungkapnha saat ditemui di sekolah, Jumat (25/2/2022).
Berdasarkan pengakuan dari para siswanya, Risman mengaku pemicu perkelahian itu karena ketersinggungan saling ejek yang terlalu sering sehingga terjadi perselisihan.
“Mereka sih mengakunya memang sering berada di atas bangunan itu dan ketika itu mereka ingin menuntaskan kekesalan dengan cara berkelahi. Tapi, setelahnya mereka bersalaman,” katanya.
Namun Risman menegaskan tak ada terkait perundungan atau perpeloncoan geng.
“Saat kejadian itu ada empat siswa yang berkelahi. Semuanya merupakan siswa kelas 8 SMP,” katanya.
Atas kejadian ini, pihak sekolah pun sudah memanggil para siswa yang bersangkutan bersama orangtuanya, untuk membuat pernyataan dan perjanjian sikap serta mengakui telah berkelahi dan tak akan mengulanginya lagi.
“Jika kemudian hari terjadi hal serupa mereka siap untuk mengundurkan diri atau mendapat tindak aturan sekolah. Jadi, ini peringatan pertama buat para siswa bersangkutan,” jelasnya.
Kejadian ini membuat para orangtua siswa merasa syok dan sempat tak mempercayai jika anaknya ini berkelahi.
“Mereka (orangtua) syok. Kalau dilihat dari latar belakang siswanya itu orang-orang pendiam dan orangtuanya enggak menyangka. Salahsatu siswanya yang menantang itu ada yang berprestasi sebagai penghapal Alquran,” katanya.
Setelah kenadian ini, pihak sekolah langsung membuat semacam edaran untuk orangtua siswa di masa PPKM level 3 dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) agar tak membiarkan anak-anaknya berkeliaran.
“Kalau ada kegiatan sekolah mesti konfirmasi ke wali kelas. Terkadang kan ada anak yang mengatasnamakan belajar kelompok,” katanya.
“Maka kami mengimbau ke orangtua siswa dan ke depannya kami akan berkoordinasi kembali dengan pihak kepolisian untuk memberikan pembinaan dan memberitahukan wawasan ke siswa akan bahaya perundungan, perkelahian, geng, hingga narkoba,” imbaunya.
Risman pun mengakui bahwa perkelahian ini terhadi lantaran tak adanya pembelajaran tatap muka (PTM) dan beralih ke 50 persen PJJ.
“Tak adanya PTM berpengaruh, karena kalau di sekolah itu kan bisa terpantau. Apalagi kami selalu lakukan patroli atau pemantauan ketika pulang sekolah. Para siswa yang berkelahi itu harusnya dapat giliran PJJ,” katanya.
















