BANDUNG — Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025 di Hotel Papandayan pada Kamis (30/10/2025) siang.
Sejumlah keputusan strategis diputuskan di rapat kali ini, yang menandai arah baru transformasi digital di Indonesia.
Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy menyebut, Rakernas tahun ini bukan sekadar rapat rutin, melainkan penetapan langkah konkret untuk memperkuat infrastruktur jaringan nasional.
“Kami sudah menjalin kerja sama dengan PT Pos Indonesia. Dari total 4.800 kantor pos, akan dimanfaatkan 2.900 titik di seluruh Indonesia untuk mendukung jaringan dari Sabang sampai Merauke,” ujar Jerry dalam konferensi pers Rakernas APJATEL, yang juga dihadiri Dirjen Infrastruktur Digital Kominfo, Wayan Toni Aditya.
Selain kerja sama dengan PT Pos, APJATEL juga mempresentasikan rencana besar penataan jaringan fiber optik nasional, sesuai amanat UU Telekomunikasi dan PP Nomor 46 Tahun 2021 tentang sharing infrastructure.
Fokusnya meliputi penggunaan tiang bersama hingga kabel bawah tanah, untuk menanggapi keresahan banyak kepala daerah terkait estetika kota dan kenyamanan masyarakat.
Tak hanya itu, APJATEL turut membahas pemanfaatan jaringan kabel laut nasional melalui BATI, yang akan mendukung empat program strategis Presiden Prabowo Subianto di bidang transformasi digital.
Jerry menegaskan, pihaknya bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang menyiapkan masterplan penataan jaringan fiber optik nasional sebagai “mahakarya infrastruktur digital Indonesia”.
“Kami juga menjajaki kerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk pemanfaatan jaringan di seluruh puskesmas. Harapannya, kolaborasi ini memperkuat ekonomi nasional dan meningkatkan pelayanan publik,” jelas Jerry.
Efisiensi Tak Hambat Kinerja Telekomunikasi
Meski pemerintah tengah menjalankan kebijakan efisiensi anggaran, Jerry menegaskan bahwa hal tersebut tidak berdampak signifikan pada kinerja industri telekomunikasi.
“Bayangkan, saat pandemi COVID-19 pun sektor ini tetap bertahan dan bahkan tumbuh. Itu bukti bahwa Indonesia kuat secara digital,” katanya optimistis.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, APJATEL menjalankan tiga strategi utama:
- Pelaksanaan sharing infrastructure sesuai regulasi,
- Penerapan sistem open access, dan
- Penyusunan blueprint nasional bersama Bappenas, agar arah kebijakan digital di daerah tetap selaras.
Kolaborasi lintas lembaga seperti Kemendagri, PUPR, dan Komdigi disebut penting untuk memastikan efisiensi biaya dan efektivitas regulasi.
Dorong AI dan Broadband Cepat, Komdigi: Jaringan Besar Harus Bernilai Ekonomi
Sementara itu, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Aditya, menyoroti pentingnya memperkuat jaringan fixed broadband untuk mendukung perkembangan teknologi seperti AI dan quantum computing.
“Sekarang banyak teknologi baru yang butuh kapasitas jaringan besar. Melalui APJATEL, kami berharap pengembangan ini diarahkan ke penyediaan infrastruktur seperti data center, agar jaringan yang dibangun bisa memberi nilai ekonomi nyata,” jelasnya.
Terkait kualitas internet Indonesia yang sering dibandingkan dengan negara lain di Asia, Wayan menilai bahwa kapasitas jaringan dalam negeri sudah sesuai kebutuhan masyarakat.
“Jangan sampai kapasitas disediakan berlebihan sementara penggunaannya hanya untuk chatting,” ujarnya.
Menurutnya, keluhan soal sinyal lebih banyak disebabkan faktor teknis seperti konfigurasi perangkat atau posisi BTS yang kurang ideal, bukan karena kapasitas jaringan.
Untuk wilayah perkotaan seperti Jakarta, Wayan menyebut kualitas internet sudah sangat baik.
Ia menambahkan, e-commerce, gaming, YouTube, dan media sosial masih menjadi aktivitas digital paling dominan di Indonesia yang berarti kebutuhan akan bandwidth besar terus meningkat.
“Kolaborasi antara penyedia jaringan, pengembang teknologi, dan pengelola fiber jadi kunci agar Indonesia bisa bersaing di level global,” tutupnya.
















