BANDUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menegaskan pentingnya upaya bersama dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS. Selain pengobatan dan deteksi dini, masyarakat juga diajak untuk menghapus stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) agar penanganan penyakit ini dapat berjalan lebih efektif.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat menghadiri Rapat Koordinasi Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Tahun 2026 di Arion Hotel, Kota Bandung, Selasa (28/7/2026).
Menurut Farhan, penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan medis maupun kebijakan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar upaya pencegahan dan pengobatan dapat berjalan optimal.
“Yang kita lawan adalah virus HIV dan perilaku yang berisiko menularkannya. Bukan manusianya. Tidak boleh ada stigma dan diskriminasi terhadap siapa pun,” kata Farhan.
Rapat koordinasi tersebut menjadi forum untuk menyatukan strategi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan dalam menekan angka penularan HIV sekaligus menghapus diskriminasi terhadap ODHIV.
Farhan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS, mulai dari perangkat daerah, Dinas Kesehatan, kecamatan, kelurahan, Kementerian Agama, Baznas Kota Bandung hingga berbagai organisasi masyarakat.
Lebih dari 10 Ribu Kasus HIV Tercatat di Kota Bandung
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 10.771 kasus HIV/AIDS secara kumulatif sejak tahun 1991.
Adapun faktor risiko penularan terbesar berasal dari hubungan seksual heteroseksual dengan persentase 38,53 persen.
Farhan menilai pola penularan HIV/AIDS terus berubah sehingga strategi penanganannya pun harus menyesuaikan perkembangan di lapangan tanpa meninggalkan pendekatan kemanusiaan.
Ia mengingatkan, Kota Bandung telah memiliki dasar hukum yang kuat dalam penanggulangan HIV/AIDS, mulai dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 hingga Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2015 tentang Penanggulangan AIDS.
Seluruh regulasi tersebut mendukung target global 3 Zero pada tahun 2030, yaitu nol infeksi baru HIV, nol kematian akibat AIDS, serta nol stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
“Siapa pun selama dia manusia adalah saudara kita. Pendekatan kemanusiaan harus tetap dikedepankan. Diskriminasi hanya akan membuat penanggulangan HIV/AIDS semakin sulit,” ujarnya.
Dorong Deteksi Dini dan Strategi STOP
Dalam kesempatan itu, Farhan juga meminta Satpol PP dan Dinas Sosial memperkuat identifikasi terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS sebagai langkah pencegahan.
Selain itu, masyarakat didorong untuk lebih rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk donor darah yang juga dapat menjadi salah satu sarana skrining penyakit menular.
Farhan kembali memperkenalkan strategi STOP, yakni Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan sebagai pendekatan utama dalam pengendalian HIV/AIDS di Kota Bandung.
Menurutnya, keberhasilan strategi tersebut sangat bergantung pada deteksi dini, pendampingan, serta kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Deteksi dini sangat penting. Yang tidak kalah penting adalah memastikan mereka yang terdiagnosis mendapatkan pengobatan secara konsisten hingga tuntas,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga sanitasi lingkungan dan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis (TB).
Program Penanggulangan Diperkuat Lewat Kolaborasi
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung, Asep Cucu Cahyadi mengatakan, rapat koordinasi tersebut bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memperkuat sinergi seluruh anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, perangkat daerah, tim ahli, kelompok kerja, sekretariat KPA hingga lembaga swadaya masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan amanat Keputusan Wali Kota Bandung tentang Pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bandung. Harapannya seluruh program penanggulangan HIV/AIDS dapat berjalan lebih terintegrasi, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata terhadap penurunan kasus,” tutur Asep.















