BANDUNG — Momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kembali menjadikan Kota Bandung sebagai magnet wisata. Selama periode libur akhir tahun tersebut, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung diperkirakan menembus angka 4,5 juta orang.
Data tersebut disampaikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung berdasarkan hasil prediksi yang disusun bersama sejumlah pihak, termasuk kepolisian, dengan mengacu pada pergerakan kendaraan yang masuk ke wilayah Kota Bandung.
Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan mengatakan, prediksi lonjakan kunjungan wisatawan tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan yang menunjukkan tingginya aktivitas wisata selama libur Nataru.
“Kami mengikuti prediksi dari kepolisian, dari pergerakan kendaraan yang masuk dan indikator lainnya. Prediksinya memang berada di kisaran 4,5 juta kunjungan, dan itu sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, perhitungan kunjungan dilakukan sepanjang periode libur Natal hingga Tahun Baru, yang berlangsung kurang lebih selama 10 hari. Bahkan, peningkatan arus wisatawan sudah mulai terasa sejak akhir pekan sebelum perayaan Natal.
“Kalau dihitung, kurang lebih sekitar 10 harian. Sejak weekend sebelum Natal sampai selesai libur Tahun Baru,” jelasnya.
Lonjakan kunjungan ini dinilai melampaui target pariwisata yang sebelumnya ditetapkan. Hingga akhir triwulan III tahun 2025, jumlah wisatawan yang datang ke Bandung tercatat sudah mencapai sekitar 6,5 juta orang.
Dengan tambahan kunjungan signifikan di akhir tahun, Adi meyakini target kunjungan wisata tahunan Kota Bandung sebesar 8,75 juta orang berhasil terlampaui.
“Saya memang sudah sampaikan sebelumnya, kalau sampai triwulan tiga sudah 6,5 juta, maka di akhir tahun pasti membludak dan melewati target. Dan ini terbukti,” katanya.
Adi menilai, tingginya minat wisata ke Bandung dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya perubahan pola perjalanan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang dinilai sedang menurun. Menurutnya, wisatawan kini cenderung memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.
“Kalau saya perhatikan, destinasi lain yang biasanya ramai di akhir tahun seperti Bali justru cenderung menurun. Mungkin karena faktor ekonomi, masyarakat memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau,” ungkap Adi.
Bandung pun menjadi pilihan favorit, terutama bagi wisatawan dari kawasan Jabodetabek, karena akses yang mudah, jarak tempuh yang relatif dekat, serta beragam pilihan wisata dan kuliner.
“Bandung ini paling dekat dan bisa dijangkau dengan mudah. Itu yang membuat kunjungan wisata tetap tinggi,” tambahnya.
Disbudpar Kota Bandung optimistis, tingginya kunjungan wisatawan selama libur Nataru akan berdampak positif terhadap pergerakan ekonomi daerah, khususnya sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan ekonomi kreatif.
Ke depan, Pemerintah Kota Bandung berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan destinasi wisata agar kepercayaan wisatawan terhadap Kota Bandung tetap terjaga.
















