BANDUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mengambil langkah tegas dalam menangani persoalan sampah yang kian mendesak. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan, kondisi sampah di Kota Bandung saat ini sudah masuk tahap darurat dan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Hal tersebut disampaikannya saat apel penyerahan peralatan penanganan sampah di Plaza Balai Kota Bandung, Senin 13 April 2026.
Menurut Farhan, lonjakan timbulan sampah diperkirakan mencapai sekitar 20 persen, meski angka tersebut masih bersifat sementara. Namun, dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai wilayah.
“Ini tanggung jawab kita semua. Tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Lingkungan Hidup. Semua harus bergerak,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Farhan menginstruksikan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya camat dan lurah, untuk turun langsung ke lapangan menangani persoalan sampah di wilayah masing-masing.
Ia juga meluncurkan gerakan “sapu-sapu kota” yang akan dimulai pada 19 April 2026. Program ini dijadwalkan berlangsung setiap hari Minggu sejak pukul 04.00 WIB hingga selesai.
Program tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan kinerja petugas kebersihan sekaligus memastikan kondisi kota sudah bersih sejak dini hari.
Tak hanya itu, Farhan juga memberikan peringatan keras kepada petugas kebersihan dan pengawas di lapangan. Ia memastikan akan melakukan evaluasi ketat terhadap kinerja mereka.
“Jika tidak memenuhi standar kerja yang telah ditetapkan maka akan langsung diberhentikan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan menekankan bahwa peralatan yang diberikan hanya bersifat pendukung. Ia mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam pengelolaan sampah, mulai dari memilah hingga mengolah sampah dari rumah.
“Tidak ada sampah yang bisa diolah tanpa dipilah. Jadi semua harus dimulai dari kita,” tuturnya.
Dukungan Sarana Prasarana Diperkuat
Untuk mendukung gerakan ini, Pemkot Bandung menyalurkan berbagai sarana dan prasarana melalui program Gaslah. Sejumlah perlengkapan yang telah didistribusikan di antaranya ribuan sarung tangan, sepatu boot, ember, hingga kaos bagi petugas kebersihan.
Selain itu, pengadaan tambahan seperti gerobak, trolly, timbangan hingga perlengkapan lapangan lainnya juga tengah dipersiapkan melalui berbagai skema, termasuk Musrenbang dan pokok pikiran (pokir).
Beberapa kecamatan seperti Cibeunying Kidul, Kiaracondong, dan Bojongloa Kidul tercatat sebagai wilayah dengan pengajuan sarana terbanyak.
Dengan langkah ini, Pemkot Bandung berharap penanganan sampah dapat berjalan lebih optimal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
















