BANDUNG — Di tengah keterbatasan fasilitas, minimnya jumlah peserta didik baru, hingga kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata ideal, SLB Karya Bhakti di Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung memilih untuk tetap bertahan.
Bagi para guru, sekolah ini bukan sekadar tempat mengajar. Mereka ingin memastikan anak-anak berkebutuhan khusus tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan, terutama bagi mereka yang belum tentu bisa diterima di sekolah lain.
Guru SLB Karya Bhakti, Dedi Gusmawan, mengungkapkan kondisi sekolah saat ini memang tidak mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan siswa baru di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
“Untuk keadaan real sekarang, mungkin kalau disebut kita masih bertahan. Situasinya memang agak sulit untuk mencari murid. Karena itu, yang menjadi penting buat sekolah kita utamanya adalah murid,” kata Dedi Gusmawan, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, kondisi bangunan sekolah menjadi salah satu penyebab perkembangan jumlah siswa berjalan lambat. Infrastruktur yang terbatas membuat orang tua kerap mempertimbangkan sekolah lain.
“Yang menjadi problem itu suasana di lingkungan ini. Mungkin tadi juga sudah dilihat bangunannya seperti apa. Ini menjadi nilai minus buat kita. Makanya penambahan siswa di sini kurang bertambah seperti di sekolah lain, karena memang sulit berkembang secara infrastruktur,” ucapnya.
Tak hanya itu, persoalan status kepemilikan tanah yang hingga kini belum tuntas juga menjadi kendala bagi pengembangan sekolah.
Dana BOS Jadi Penopang Operasional Sekolah
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, operasional SLB Karya Bhakti masih mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.
Bagi pihak sekolah, bantuan tersebut menjadi penopang utama agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.
“Kami bertahan dari dana BOS. Alhamdulillah pemerintah masih rutin memberikan BOS sesuai aturan yang diberlakukan. Ini menjadi lifeline kami, menjadi penyambung hidup sekolah ini,” ujar dia.
Dedi menegaskan, sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan karena masih banyak anak berkebutuhan khusus yang memerlukan pendampingan khusus dan tidak semua sekolah mampu memfasilitasinya.
“Ada beberapa kondisi yang membuat murid-murid tidak diterima di sekolah lain. Misalnya karena kedisabilitasannya, mereka mungkin tidak mampu menanganinya,” jelasnya.
Satu Guru Mendampingi Satu Anak
Pendekatan pembelajaran di SLB Karya Bhakti juga berbeda dengan sekolah pada umumnya. Beberapa siswa membutuhkan pendampingan penuh sehingga satu guru harus fokus mendampingi satu anak.
“Kalau kita lihat, ada anak-anak yang memang harus ditangani dengan satu guru untuk satu anak. Sementara sekolah lain mengejar kuantitas. Di sini kami menerima semuanya, walaupun berdampak pada daya tampung sekolah yang menjadi lebih kecil,” tutur dia.
Saat ini, SLB Karya Bhakti memiliki 16 siswa berdasarkan data Dapodik. Lima di antaranya merupakan anak dengan autisme yang membutuhkan perhatian lebih intensif.
Selain itu, terdapat siswa dengan down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga anak dengan disabilitas ganda (double handicap).
“Selain autis, ada anak down syndrome, tunagrahita dan tunadaksa. Bahkan ada yang double handicap, jadi bukan hanya tunadaksa. Tetapi juga memiliki disabilitas penyerta lainnya,” ujar dia.
Keterbatasan ruang kelas juga membuat sekolah harus mengatur jumlah siswa dalam setiap kelas agar proses belajar tetap efektif.
“Untuk anak autis, jelas satu guru satu anak. Kalau untuk anak down syndrome dan tunagrahita yang bisa diklasikalkan, maksimal lima anak supaya kondusivitas kelas tetap terjaga,” ucapnya.
“Setiap Hari Kami Tidak Pernah Kehabisan Alasan untuk Tersenyum”
Selama 15 tahun mengabdi di SLB Karya Bhakti, Dedi mengaku justru mendapatkan banyak kebahagiaan dari para siswanya.
Meski penuh tantangan, tingkah laku dan kepolosan anak-anak menjadi semangat tersendiri bagi para guru untuk terus mengajar.
“Setiap hari kami tidak pernah kehabisan alasan untuk tersenyum, karena anak-anak di sini memberikan kebahagiaan buat kami. Kadang ada celotehan-celotehan mereka yang membuat hari kami lebih berwarna,” ungkapnya.
Di balik dedikasi tersebut, kesejahteraan guru masih menjadi tantangan. Dedi mengaku penghasilannya sekitar Rp700 ribu per bulan, dan bisa mencapai sekitar Rp1 juta jika ditambah sertifikasi serta kegiatan ekstrakurikuler.
“Kalau disebut cukup, ya dicukup-cukupin saja. Tergantung kitanya,” tutur dia.
Meski demikian, ia tidak kehilangan harapan. Dedi ingin SLB Karya Bhakti tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dengan fasilitas yang lebih layak agar semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang bisa mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan.
“Impian kami bukan hanya bertahan di sini, tetapi juga ingin berkembang dan mengembangkan cita-cita sekolah ini,” tandasnya.















