BANDUNG — Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, resmi berdiri pada 25 September 1810. Namun, jauh sebelum tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi, Bandung telah melalui perjalanan panjang yang sarat dengan dinamika sejarah mulai dari pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di Krapyak, masa kolonial Belanda, hingga menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia.
Asal Usul: Dari Krapyak ke Pusat Kota Baru
Sebelum dikenal dengan nama Bandung, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung berada di Krapyak (kini wilayah Dayeuhkolot, sekitar 11 km dari pusat kota).
Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-19, Krapyak menjadi keraton atau pusat kekuasaan bupati. Namun, letaknya rendah dan rawan banjir karena berada di pertemuan Sungai Cikapundung dan Citarum.
Situasi itu membuat R.A. Wiranatakusumah II, Bupati Bandung (1794–1829), memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi yang lebih strategis dan dekat dengan pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) karya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Pemindahan dilakukan bertahap: dari Cikalintu (Cipaganti), ke Balubur Hilir, lalu ke Kampung Bogor (kini Gedung Pakuan).
Tanggal 25 September 1810 ditetapkan sebagai hari resmi perpindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke lokasi baru di tepi barat Sungai Cikapundung. Inilah yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
Banyak orang keliru mengira Bandung didirikan oleh Daendels, padahal sesungguhnya inisiatif berasal dari Wiranatakusumah II. Daendels hanya memberi arahan agar pusat kota berada dekat Jalan Raya Pos (kini Jalan Jendral Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan Ahmad Yani).
Masa Kolonial dan Pra-Kemerdekaan (1810–1945)
Setelah resmi berdiri, Bandung masuk ke dalam masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sejak tahun 1906, Bandung ditetapkan sebagai gemeente (kotamadya), menandai awal transformasi kota dari sekadar pemukiman administratif menjadi pusat perkotaan modern.
Pada masa ini, fasilitas publik mulai dibangun: kantor pemerintahan, jalur jalan, pasar, hingga infrastruktur kota. Ekspansi wilayah pun dilakukan lewat aneksasi daerah sekitar, sekaligus penataan tata ruang kota secara lebih sistematis.
Arsitektur Bandung juga berkembang pesat dengan gaya Hindia Belanda dan New Indies Style, yang hingga kini masih bisa dilihat pada bangunan bersejarah seperti Gedung Kologdam atau kompleks Jaarbeurs.
Periode Revolusi Kemerdekaan (1945–1950)
Seusai Proklamasi 1945, Bandung menjadi salah satu kota penting dalam revolusi. Namun situasi perang memaksa pemerintahan kota berjalan dalam kondisi darurat.
Momen paling heroik adalah Bandung Lautan Api pada 23–24 Maret 1946. Warga Bandung membakar kotanya sendiri agar tidak dapat digunakan kembali oleh tentara Belanda. Peristiwa ini bukan hanya menjadi catatan sejarah lokal, tetapi juga simbol perlawanan bangsa Indonesia.
Era Pasca Kemerdekaan dan Bandung Modern (1950–sekarang)
Setelah kemerdekaan, Bandung berkembang menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat sekaligus pusat pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Pertumbuhan pesat terjadi lewat urbanisasi, pembangunan kampus-kampus besar, serta lahirnya industri kreatif.
Namun, perkembangan ini juga membawa tantangan kota besar: kemacetan, urbanisasi padat, dan masalah lingkungan. Perluasan administratif pun terus dilakukan, menyerap sebagian wilayah Kabupaten Bandung untuk mendukung pertumbuhan kota.
Kini, Bandung dikenal sebagai kota metropolitan ketiga terbesar di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, dengan identitas kuat sebagai kota pendidikan, riset, sekaligus destinasi wisata budaya dan kuliner.
Asal Nama “Bandung”
Nama “Bandung” diyakini berasal dari kata “bendung” atau “bendungan”, merujuk pada terbentuknya danau purba akibat aliran Sungai Citarum yang terbendung lava Gunung Tangkuban Parahu. Daerah yang dulu berupa danau itu kemudian menjadi dataran subur tempat berkembangnya permukiman.
Versi lain menyebut nama Bandung berasal dari dua perahu (bandung) yang digunakan R.A. Wiranatakusumah II saat menyusuri Sungai Citarum mencari lokasi ibu kota baru. (PPID Kota Bandung)
Dari Krapyak yang rawan banjir hingga menjadi kota metropolitan penuh sejarah, Bandung tumbuh sebagai kota dengan identitas unik.
Sejarah panjang ini terekam dalam berbagai monografi resmi pemerintah maupun catatan sejarah populer, membuktikan bahwa Bandung bukan hanya sekadar kota, tetapi juga simbol perjuangan, kreativitas, dan dinamika masyarakatnya.
**
Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber:
https://humas.bandung.go.id/berita/sejarah-singkat-kota-bandung-dari-krapyak-cipaganti-hingga-jalan-pos
https://ppid.bandung.go.id/knowledgebase/cerita-rakyat-bandung-asal-usul-nama-bandung/
https://jdih.bandung.go.id/home/profil/sejarah-kota-bandung
https://sikn.jabarprov.go.id/index.php/bandung-tempo-dulu-jl-asia-afrika-nampak-delman-menjadi-alat-transportasi-saat-itu
















