BANDUNG — Dugaan praktik pengoplosan beras kembali mencuat dan menimbulkan kekhawatiran publik.
Dari hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama Satgas Pangan Polri, ditemukan bahwa sebanyak 26 merek dari total 212 merek beras tak memenuhi standar mutu dan terindikasi sebagai beras oplosan.
Temuan ini tidak hanya soal kualitas, tapi juga menyangkut kejujuran produsen terhadap informasi produk.
Beberapa kemasan mencantumkan berat 5 kilogram, namun saat ditimbang, isinya hanya sekitar 4,5 kilogram. Bahkan, banyak di antaranya yang mengklaim sebagai beras premium padahal kualitasnya biasa saja.
“Contoh ada volume yang mengatakan 5 kilogram, padahal 4,5 kg. Kemudian ada yang 86 persen mengatakan bahwa ini premium, padahal itu adalah beras biasa. Artinya apa? Satu kilo bisa selisih Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kilogram,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam video yang dikutip dari Kompas.com, Rabu (16/7/2025).
Akibat praktik ini, kerugian yang dialami masyarakat ditaksir mencapai Rp99 triliun per tahun, hampir menyentuh angka Rp1.000 triliun secara keseluruhan.
Berikut daftar merek beras yang diduga masuk dalam daftar oplosan berdasarkan laporan Bangka Post:
Ayana, Food Station, Raja Platinum, Larisst, Slyp Hummer, Medium Pandan Wangi, Fortune, Sania, Topi Koki, Setra Pulen, Beras Pulen Wangi, Leezaat, Pandan Wangi BMW Citra, Beras Premium Setra Ramos, Kepala Pandan Wangi, Dua Koki, Sovia, Raja Ultima, Kakak Adik, Alfamidi Setra Pulen, Setra Ramos, Ramos Premium, Elephas Maximus, Raja Udang, Beras Subur Jaya, dan Siip.
Pihak produsen pun mulai angkat bicara. PT SUL, salah satu produsen yang turut disebut, menegaskan kesiapannya untuk mengikuti pemeriksaan dan evaluasi.
“Dalam menjalankan operasional bisnis, kami memastikan seluruh proses produksi dan distribusi beras PT SUL dijalankan sesuai dengan standar mutu dan regulasi yang berlaku,” kata Carmen Carlo Ongko, Kepala Divisi Unit Beras PT SUL.
Ia menambahkan, pihaknya melakukan pengawasan internal secara berkala, termasuk dalam aspek takaran, kebersihan, dan pelabelan produk.
Meski hasil resmi pemeriksaan belum keluar, PT SUL menyatakan terbuka untuk perbaikan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Karyawan Gunarso, menyatakan pihaknya masih akan menelusuri lebih lanjut kabar tersebut.
“Saya akan koordinasi, dan men-cross check dulu,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Wilmar Group dan PT Belitang Panen Raya yang juga disebut, belum memberikan klarifikasi resmi.
















