BANDUNG — Partai NasDem resmi menonaktifkan dua kadernya, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, dari keanggotaan DPR RI. Pengumuman ini disampaikan melalui siaran pers DPP Partai NasDem, Minggu (31/8/2025), yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Surya Paloh dan Sekretaris Jenderal Hermawi F Taslim.
“DPP Partai NasDem menyatakan terhitung sejak hari Senin, 1 September 2025, DPP Partai NasDem menonaktifkan saudara Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem,” demikian isi keterangan tersebut.
Langkah ini, menurut NasDem, diambil sebagai respons atas pernyataan kontroversial yang dilontarkan keduanya dalam beberapa waktu terakhir.
Namun muncul pertanyaan, apakah status nonaktif sama dengan pemecatan dari DPR?
Secara hukum, istilah “nonaktif” tidak dikenal dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Penonaktifan ini lebih pada langkah internal partai yang berarti pembekuan fungsi politik.
Artinya, Sahroni dan Nafa masih tercatat sebagai anggota DPR RI, namun tidak lagi memiliki legitimasi politik di bawah fraksi NasDem. Mereka juga tidak bisa aktif dalam alat kelengkapan dewan hingga ada keputusan lebih lanjut.
Proses resmi yang bisa benar-benar mengakhiri status keanggotaan DPR disebut recall atau pergantian antarwaktu (PAW).
Recall memberi kewenangan pada partai untuk menarik kader dari parlemen dan mengusulkan penggantinya kepada Presiden melalui pimpinan DPR. Selama recall belum dilakukan, kursi Sahroni dan Nafa masih sah menjadi milik mereka.
Alasan penonaktifan keduanya dijelaskan langsung oleh DPP NasDem. “Bahwa dalam perjalanan mengemban aspirasi masyarakat ternyata ada pernyataan dari pada wakil rakyat khususnya Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yang telah menyinggung dan mencederai perasaan rakyat, dan hal tersebut merupakan penyimpangan terhadap perjuangan Partai NasDem,” tulis siaran pers itu seperti dilansir dari laman aceh.tribunnews.com.
Surya Paloh juga menegaskan bahwa partainya tetap menjadikan aspirasi rakyat sebagai dasar perjuangan.
Nama Ahmad Sahroni menjadi sorotan usai pernyataannya terkait desakan pembubaran DPR. Dalam kunjungan kerja ke Polda Sumut, Jumat (22/8/2025), ia menyebut pandangan itu sebagai mental orang tolol.
“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia,” kata Sahroni.
“Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita,” sambungnya.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari publik.
Sementara itu, Nafa Urbach disorot usai membela tunjangan rumah bagi anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan.
Ia menyebut tunjangan itu bukan kenaikan, melainkan kompensasi atas rumah jabatan yang dikembalikan ke negara.
“Itu bukan kenaikan, itu tuh kompensasi untuk rumah jabatan. Rumah jabatan yang sekarang ini sudah tidak ada, jadi rumah jabatan itu sudah dikembalikan ke pemerintah,” ujar Nafa dalam siaran langsung di media sosial.
Nafa juga menambahkan bahwa tidak semua anggota DPR berasal dari Jakarta, sehingga perlu kompensasi untuk mendukung mobilitas mereka.
“Orang dewan enggak orang Jakarta semuanya, itu kan dari seluruh pelosok, jadi enggak semuanya punya rumah di Jakarta,” tambahnya.
**
Dengan penonaktifan ini, posisi Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach masih sah di parlemen, namun status politiknya dibekukan.
Keputusan apakah mereka akan benar-benar dicopot melalui recall kini menunggu langkah lanjutan dari Partai NasDem.
















