BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung mencatat penurunan signifikan jumlah lansia terlantar dalam dua tahun terakhir.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Soni Bachtiar, menyampaikan hal ini dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-29 Tingkat Kota Bandung, Kamis, (12/6/2025).
“Pada tahun 2024 tercatat 455 kasus lansia terlantar. Per 11 Juni 2025, hanya tercatat 85 kasus. Jika dibandingkan semester pertama tahun lalu, turun hingga 77,2 persen,” ujar Soni.
Menurutnya, pencapaian ini tak lepas dari kolaborasi lintas sektor dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat orang tua mereka.
Data juga menunjukkan, pada tahun 2023, 79 persen lansia terlantar berasal dari Bandung. Angka itu menurun menjadi 71,42 persen pada tahun 2024.
“Ini tanda positif bahwa kesadaran masyarakat membaik,” tambahnya.
Saat ini, jumlah lansia di Kota Bandung mencapai 266.552 jiwa.
Dari angka itu, sebanyak 94.478 masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan menerima berbagai jenis bantuan seperti PBI, BLT, dan PKH.
Sekitar 85.000 lansia telah menerima bantuan, namun masih ada sekitar 9.000 lansia yang belum terlindungi.
“Ini jadi prioritas kami untuk dilindungi secara sosial,” ucap Soni.
Ia juga menekankan pentingnya aspek psikologis dalam pelayanan terhadap lansia, terutama laki-laki yang cenderung tertutup saat mengalami tekanan hidup.
“Ini harus menjadi perhatian, apalagi dalam situasi pasca PHK atau tekanan ekonomi,” ujarnya.
Dalam peringatan HLUN tahun ini, Dinas Sosial menghadirkan ruang khusus lansia yang didampingi oleh psikolog.
Soni menyebut, banyak lansia laki-laki yang justru membutuhkan ruang aman untuk bercerita.
“Ini penting untuk melepaskan tekanan yang lama dipendam, terutama oleh bapak-bapak,” katanya.
Inovasi lain yang sedang berjalan adalah kolaborasi Pemkot Bandung dengan hotel dan restoran untuk mendistribusikan surplus makanan.
Program ini tidak menggunakan anggaran APBD, namun berdampak langsung pada masyarakat.
“Hari ini bantuan saja ada 500 porsi dari hotel. Ke depan, targetnya 5.000 porsi per hari. Kalau dinilai setara Rp40.000 per porsi, bisa mencapai nilai Rp72 miliar per tahun, semuanya tanpa menggunakan APBD,” ungkapnya.
Berbagai upaya ini menjadikan Bandung masuk dalam 10 kota besar dengan indeks kesehatan sosial tertinggi di Indonesia.
Bahkan berdasarkan survei Good Stat 2024, Bandung berada di posisi ketiga sebagai kota pilihan untuk menghabiskan masa tua.
“Lansia yang memilih Bandung akan membutuhkan hunian, dan ini mendorong investasi. Maka, pelayanan terhadap lansia harus kita jaga dan tingkatkan,” tambah Soni.
Ia berharap, peringatan HLUN tidak berhenti pada seremoni, tapi jadi titik tolak untuk memperkuat gerakan nyata dalam merawat dan memuliakan para lansia.
“Bandung semakin layak menjadi kota ramah lansia jika kita terus berkolaborasi dan menjaga komitmen bersama,” tutupnya.
















